Home KBIH HAJI

Umum

Penghambaan

Akar dari mu’amalah ada empat aspek, perilaku terhadap Allah, perilaku terhadap diri sendiri, perilaku terhadap makhluk Allah dan perilaku terhadap dunia. Setiap aspek terbagi menjadi tujuh prinsip. Adapun prinsip perilaku kepada Allah ada tujuh yaitu, menyampaikan hak-Nya, menjaga batas-batas yang telah ditentukan-Nya, bersyukur atas segala yang telah diberikan-Nya, rela dengan segala yang ditentukan-Nya, shabar dalam segala cobaan-Nya, memuliakan  kesucian-Nya dan merindukan-Nya.

Adapun prinsip tingkah laku kepada diri sendiri ada tujuh yaitu, takut, bersungguh-sungguh, kuat menahan kesulitan, riyadhah (disiplin spiritual), selalu  berusaha mencari kebenaran, ikhlas, menjauhkan diri dari segala yang dicintai dan menjalani kehidupan dalam kefakiran.

Adapun prinsip berperilaku dengan makhluk (selain dirinya) adalah rendah hati, memaafkan, thawadhu, kedermawanan, keinginan yang kuat untuk berteman, nasihat yang baik, berlaku adil dan bijaksana.

Adapun prinsip mu’amalah terhadap dunia adalah rela terhadap yang dimiliki orang lain, merasa cukup dengan apa yang dimiliki, berusaha melupakan yang telah hilang, membenci segala yang berlebihan, berusaha menahan nafsu, mengenal kejahatan- dan tipu daya dunia, bertahan dari segala godaannya serta bertahan dari kecintaan pada kekuasaan. Jika sifat-sifat ini telah terkumpul pada diri seseorang maka dia telah mejadi hamba pilihan Allah, salah seorang hamba terdekat dan merupakan wali-Nya.

 

Akreditasi Yayasan Babussalam Bdg

Bismillahirrahirrahim
 
Alhamdulillah Yayasan Babussalam Bandung akan melaksanakan Akreditasi Yayasan dalam bidang Orsos dimana diajukan sebagai salah satu ORSOS ( Organisasi Sosial Yang Berprestasi pada Tingkat Provinsi Jawa Barat. Hal ini tentunya sebuah kebanggaan serta kehormatan bagi Kami selaku Keluarga Besar Yayasan /Pesantren Al-Qur'an Babussalam Bandung. kami berharap dan memohon semoga Babusalam dapat berkembang tersu dan maju 
 

IMAM ALI DAN HAK ASASI MANUSIA DALAM NAHJUL BALAGHAH TINJAUAN TAFSIR AL-QURAN

Di Uhud, ketika pasukan kafir Quraisy berhasil membuat barisan muslimin kocar-kacir, bahkan banyak yang melarikan diri, Ali tetap menyertai Nabi dan berperang dengan gigih di sisi orang yang ia cintai itu. Di tangan Ali-lah pasukan Quresy yang mengepung dan berusaha membunuh Nabi, berhasil dipukul mundur. Di medan yang penuh hiruk pikuk itu, luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya, tidak membuat kendur semangat Ali untuk berkorban dan membela Rasulullah SAW. Di Uhud inilah terdengar suara Jibril yang memuji Ali dengan mengatakan, "Tidak ada pahlawan seperti Ali dan tidak ada pedang seperti Dzul Fiqar."

          Di sisi lain, di pojok sebuah mesjid sederhana, Imam Ali as. Bisa menangis tersedu-sedu di hadapan Sang Khalik. Meneteskan air mata sampai membasahi janggut dan tanahnya sambil bermunajat, “Allahumma, Ya Allah, Engkaulah yang paling dekat menghibur para wali-Mu, yang paling menjamin kecukupan bagi siapa saja yang ber­tawakal kepada-Mu. Engkau melihat sampai ke lubuk hati mereka, menembus jauh dalam nurani mereka dan mengetahui kedalaman pe­rasaan mereka. Semua rahasia mereka terbuka di hadapan-Mu, semua bisikan hati mereka mendamba rnengharap dari-Mu. Bila menderita keterasingan, mereka segera terhibur dengan sebutan-Mu. Dan bila ter­curah atas mereka aneka ragam musibah, mereka pun berlindung kepada-Mu. Mereka benar-benar menyadari bahwa kendali segalanya berada di tangan-Mu sebagaimana kemunculannya berasal dari ketentu­an-Mu.”
 

Berkaca pada Nabi Yusuf as.

“Dan raja berkata “Bawalah Yusuf kepadaku agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata “Sesungguhnya kamu mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami”.

Berkata Yusuf : “Jadikanlah aku bendaharawan negara, sesungguhnya aku adalah orang yang bisa menjaga amanat dan lagi berpengetahuan” Yusuf : 54-55

 

Segera setelah isteri penguasa Mesir mengakui kesalahannya, Nabi Yusuf as dibebaskan dari penjara dan dihadapkan kepada penguasa Mesir saat itu. Karena kejujuran dan keteguhan hati Yusuf as, Raja membebaskannya dari segala tuduhan. Pada saat yang bersamaan, Nabi Yusuf menawarkan dirinya agar dijadikan bendaharawan negara. Apa yang ditawarkan Nabi Yusuf agar ditempatkan di pos yang penting itu ? Bisa menjaga amanat dan berpengetahuan (ahli).

Kedudukan yang dipegang-pun tidak disia-siakan. Di bawah pengaturan dan kekuasannya, Mesir tumbuh dan berkembang menjadi negara yang makmur. Al Qur'an menceritakan peristiwa itu “Dan demikianlah kami memberi kedudukan pada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja dia kehendaki di bumi Mesir. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”.

Sekarang, ketika sedang dilanda krisis berkepanjangan, maka tidak ada salahnya berkaca pada Nabi Yusuf, dengan memasukkan dua kriteria yang juga menjadi modal untuk membangun Mesir. Rasanya tidak ada salahnya kita mengadopsi resep yang dianut oleh Nabi Yusuf dalam rangka membangkitkan dan membangun  kembali bangsa yang sedang terpuruk ini, dan dijadikan syarat utama penempatan dan penentuan pejabat yang akan menjadi ujung tombak kebangkitan bangsa.

Kriteria pertama adalah amanah, dan kejujuran. Rasulullah bersabda “Sifat amanah akan menghasilkan kekayaan dan khianat akan menghasilkan kefakiran”. Saya berkeyakinan jika sifat amanah ini sudah melembaga dan membumi, maka rahmat Allah akan turun dengan segera. Bukankah keterpurukan bangsa ini disebabkan oleh orang-orang yang berkhianat kepada bangsanya dengan mengeruk kekayaan alam negeri serpihan surga ini hanya untuk kepentingan pribadi ?

Dalam Ayat di atas, kekuasaan adalah amanat Tuhan, karena Tuhan memberikan kekuasaan pada yg dikehendaki-Nya dan mencopot kekuasaan dari yg dikehendaki juga. Dalam konteks demokrasi, kekuasaan adalah amanat dari rakyat. Sudah semestinya itupun dipersembahkan buat kesejahteraan rakyat.

Berbekal kejujuran dan amanah saja rasanya tidak cukup untuk membangun kembali bangsa ini. Oleh karena itu dibutuhkan kriteria kedua yaitu keahlian. Tanpa keahlian dalam mengelola potensi manusia dan alam yang sangat berlimpah ini, maka kebangkitan yang kita harapkan seperti sebuah penantian tanpa akhir. Kembali saya mengutip sebuah hadits Rasulullah yang sangat terkenal “Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah detik-detik kehancurannya”. Kita tentu tidak ingin bangsa kita hancur hanya karena urusan bangsa yg besar ini diserahkan pada orang-orang yg tidak becus dan tidak amanah.

 

Pengaruh Kemewahan

 Umumnya masyarakat lebih mengetahui hadits Nabi yang artinya “kefakiran mendekatkan pada kekufuran” karena hadits ini banyak dilansir oleh muballigh-muballigh. Saya tidak mempersoalkan apakah hadits ini dhaif atau tidak, karena ini masalah khilafiyah, tetapi yang jelas bahwa jika Nabi bersabda, beliau selalu melihat situasi dan kondisi individu sehingga pertanyaan yang sama bisa terjadi jawaban Nabi yang berbeda karena situasi dan kondisi penanya yang berbeda pula.

Di saat umat Islam sudah mulai mencapai kejayaannya beliau bersabda dengan didahului sumpah : “Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan kepada kalian, tetapi yang paling aku khawatirkan adalah jika Allah swt melapangkan rezeki-Nya kepada kalian, maka di kala itu kalian saling berebut sebagaimana umat-umat  terdahulu saling rebut-rebutan, maka di kala itu kalian akan hancur binasa sebagaimana umat-umat terdahulu hancur dan binasa karena kekayaan itu (HR. Bukhori).

kita ingat ketika kita baru saja merdeka, persatuan dan kesatuan bangsa demikian kuatnya. Perjuangan tanpa pamrih, rela berkorban, keharmonisan bangsa sangat tinggi. pejabat yang korup boleh dikatakan tidak ada. di samping memang masih miskin, juga jiwa pengorbanan, keikhlasan, perjuangan tanpa pamrih masih sangat tinggi sekali.

Tetapi di kala emas sudah ditemukan, hutan belantara sudah jadi komoditi, isi bumi sudah menjadi dollar dan lautan merupakan harta karun maka perlombaan menumpuk kekayaan menjadi model. Tumbuhlah pola hidup mewah, megah dan konsumtif. Maka terbuktilah apa yang dibayangkan Rasulullah saw. Timbulah perebutan aset antara daerah dan pusat, dan daerah-daerah kaya menuntut kemerdekaannya. Maka pasti terbukti apa yang telah digariskan oleh Allah swt dalam surat 17:16 “Jika Kami ingin menghancurkan suatu bangsa, maka kami munculah pola hidup mewah di tengah bangsa itu. Di kala itu muncullah kefasikan (Penolakan terhadap Allah) di daerah itu. Saat itu Allah berhak menyiksanya maka mereka hancur sehancur-hancurnya”

Sikut-sikutan dan rebutan kekuasaan pada hakekatnya adalah perebutan kekayaan, bahkan perang dunia pertama, kedua dan ketiga tidak lepas dari perebutan harta kekayaan. Oleh karena itu jika dalam kemakmuran kita tidak bisa mengelola nafsu, maka kekhawatiran Rasulullah akan menjadi kenyataan.

 


Halaman 1 dari 2

CARI DATA

JADWAL SHOLAT


Jadwal shalat untuk wilayah lain di Indonesia
Tutup

USER LOGIN

Anggota

   37 Terdaftar
   0 Hari Ini
   0 yesterday
   0 this week
   0 this month

Statistik Kunjungan

mod_vvisit_counterHari Ini17
mod_vvisit_counterKemarin143
mod_vvisit_counterMinggu Ini531
mod_vvisit_counterBulan Ini1698
mod_vvisit_counterTotal60043